Rabu, 07 November 2012

SEBUAH CERPEN: KEKUASAAN GEREJA


jaKekuasaan Gereja
Oleh Iswan Sual, S.S

Pimpinan dan jemaat gereja di Jakarta berunjuk rasa di depan kantor agama dan gubernur serta di DPR DKI Jakarta kemarin. Mereka meminta perlindungan pemerintah. Menjamin hak-hak mereka untuk beribadah. Pada hari jumat hingga hari minggu beberapa gereja diserang massa yang terang-terang sudah dikenal. Organisasi itu sudah akan akan merayakan dies natalis organisasinya ke 12 tahun ini. Sudah banyak tempat ibadah yang mereka porak-porandakan. Tak hanya gereja yang diserang. Mesjid juga. Jemaah Muhammadiah juga dibunuhi oleh mereka. Pemerintah tak berbuat hal nyata untuk menjamin hak-hak warganya untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya. Paling banter hanya memberikan pernyataan “mengutuk” tak terkesan membiarkan. Padahal organisasi itu sudah jelas-jelas meresahkan dan justru pernah mengeluarkan ancaman untuk menurunkan presiden dari tampuk kekuasaannya.  Sebegitukah pengecutnya pemerintah kita sehingga mereka terus memelihara ular dalam rumahnya. Yang terancam tak diperdulikan.
Di Koran juga kubaca pimpinan-pimpinan agama di daerah kami mempublikasikan pernyataan mereka. Semuanya bernada sama: mengutuk tindakan penyerangan terhadap gereja itu. Mereka juga menghendaki agar pemerintah memberikan balasan setimpal kepada para pelakunya. Padahal orang-orang yang diserang itu tak berniat sedikit mengutuki dan membalas mereka. Mereka hanya meminta pemerintah agar mereka diberikan kenyamanan dan ketentraman sebagai warga negara. Para pemimpin agama di daerahku bahkan berlebihan dengan penunjukkan rasa simpati mereka. Rasa simpati yang sebenarnya dibungkus oleh keinginan untuk tampil sebagai pahlawan. Berharap agar masyarakat bahkan dunia melihat bahwa mereka peduli dan menginginkan agar kemajemukan harus senantiasa dijaga. Mereka meneriakkan penjaminan hak-hak setiap orang beribadah dan berkeyakinan. Mereka menyumpahi para Islam garis keras yang memboikot rumah-rumah ibadah yang hendak dibangun. Tanpa tahu duduk persoalannya.
***
Seperti biasa, setiap hari minggu saya ke gereja. Demikian juga hari ini. Batin saya yang sumpek di enam hari boleh terasa sejuk setiap kali saya melangkahkan kaki rumah Tuhan. Alunan musik yang ciptakan pada abad 13 dimainkan begitu sempurna. Seketika itu kurasakan suasana surga melingkupiku. Senyum dan tawa mengembang pada semua orang berdatangan. Kami saling berjabat tangan. Begitu sejuk suasana terasa.
“Pertolongan kepada kita adalah dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi, yang tetap setia untuk selama-lamanya dan tidak meninggalkan perbuatan tangaNya. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai saudara-saudara,” ucapan khadim di atas mimbar menambah kesejukkan dalam batinku. Bagaikan titik embun pagi hari. Seumpama pohon-pohon perteduhan di saat mentari menyengat sepanjang hari.
“Amin,” balas kami.
Bila suasana ini mampu membuat batinku tenang aku rela tinggal lama dalam gedung ini. Akan kujual seluruh hartaku untuk para pendeta dan pelayan Tuhan. Akan kubaktikan hidup ini untuk gereja. “Saudara-saudara sekalian, mari kita persiapan hati kita untuk mendengarkan suara Tuhan…” ini yang paling kutunggu. Disinilah pesan-pesan indah tentang kedamaian diungkapkan. Di waktu inilah Tuhan menjelma membagikan percikan-percikan keadaan surgawi. Seperti mana surgawi dilimpahkan kepada bangsa Israel kita mereka ditempah di  gurun dalam perjalanan ke tanah Kanaan.
“Kita sebagai cepat harus saling memperhatikan. Saling mengunjungi di saat sakit, saling mengingatkan bila ada yang mulai menyimpang dari jalan Tuhan. Didiklah anak-anak kita agar menjadi taat pada agama dan gereja. Didiklah mereka agar selalu dekat dengan Tuhan…Mari taburkan damai ke sekeliling kita……tapi kita juga seharusnya waspada. Jangan, besok-besok anak-anak kita dulu bernama Maria lalu menjadi Siti Mariam, Yohanes menjadi Ibrahim, Sarah menjadi Siti Hajar, Ishak menjadi Ismail, Imanuel lalu berubah menjadi Muhammad. Jangan! Jangan saudara sekalian. Jangan berikan kesempatan. Awalnya mereka datang dengan senyum, ada  yang pura-pura jual bakso, mie ayam, jamu, sayur, tahu. Kemudian lama kelamaan mereka akan membeli rumah di kampung kita. Mereka akan tinggal. Seiring waktu mereka mengundang keluarga mereka dari Jawa sehingga mereka dapat mendirikan mesjid.”
Aku terhenyak dengan khotbah pendeta. Awalya dia berbicara tentang kedamaian. Selanjutnya dia menaruh rasa curiga pada jemaat agar mewaspadai orang yang datang. Dia juga menyebutkan cara-cara penyebaran agama Islam yang bakal terjadi di kampung kami. Bukankah begitu juga cara Riedel dan swharz sewaktu mereka membawa agama Kristen ke tanah Minahasa?
Dia menyebutkan deretan nama seperti Siti Mariam, Ibrahim, Siti Hajar, Ismail dan Muhammad seolah-olah mereka adalah sosok yang menebarkan permusuhan ke dunia. Seolah-olah mereka adalah orang jahat yang juga dibenci oleh Tuhan. Siti Mariam, bukankah dia itu nama dari ibu Isa (Yesus) dalam bahasa Arab? Ibrahim apalagi. Bukankah itu nama Arab dari bapa semua orang beriman, Abraham. Hajar dan Ismail bukankah Allah memberkati mereka juga. Muhammad, bukankah dia mengajarkan kepada pengikutnya agar tak memusuhi orang Kristen? Bukankah dia sangat menghormati orang Kristen karena pamannya (beragama Kristen) juga yang menikahkan dia dengan istrinya?
Kenapa tega-teganya pemuka agama mengajarkan umatnya untuk membenci umat lain. Para pemuka menampakkan kerukunan dalam lembaga tetapi ketika mereka pulang ke asal mereka masing-masing, mereka menebarkan benih permusuhan. Pantas saja kita terus berkelahi.
Saat ibadah selesai aku pulang tanpa menyalami sang pengkhotbah. Senyumku hilang seiring benih-benih perpecahan ditabur di dalam gereja.
***
“Selamat sore,” terdengar suara dan ketukan pada pintu. Dari balik jendela aku melihat tiga sampai lima orang. Aku kenal mereka. Setiap hari minggu aku selalu melihat mereka, dengan stola putih berbordir ∆ dan Ω, duduk wibawa rohani yang ternyata dibuat-buat. Kulihat sang pengkhotbah juga berdiri di depan pintu.
“Selamat sore,” sahutku setelah membuka pintu, “Ada ya?”
“Begini, kamu hendak bertemu dengan bapak.”
“Bapak? Oh ada. Dia di belakang sedang memberi makan bebek dan ayam. Aku panggil ya…”
“Kami datang untuk bertemu anda,” kata bapa yang sudah beruban, memotong pembicaraanku.
“Maksud bapak, mau ketemu saya? Oh silahkan duduk.”
Lima orang ini tampak enggan untuk berbicara. Senyuman mereka terkesan hanya dibuat-buat. Tak berapa lama ayah dan ibu muncul dan langsung menyalami pendeta dan rekan-rekannya. Ayah dan tampak respek sekali pada pendeta. Bahkan kelihatan malu bercampur takut. Seperti Adam dan Hawa yang malu setelah ketahuan oleh Tuhan karena telah menelan “buah pengetahuan buruk dan baik” yang disuguhkan oleh si ular.
Setelah didahului doa yang panjang, sang pendeta mulai bertutur:             
“Kedatangan kami kesini untuk melihat jangan-jangan saudara sedang sakit. Soalnya sudah dua bulan tidak pernah kami lihat di gereja. Biasanya bapak yang paling rajin.”
Oh ternyata ini toh maksud kedatangan mereka. Bukan yang sakit. Sebenarnya merekalah yang sakit. Mereka seharusnya mengunjungi dan mengembalakan jiwa mereka yang digerogoti oleh rupa-rupa penyakit, terutama penyakit curiga dan antikris. Kalau mereka tidak menjalankan anjuran dan ajaran Kristus, tak keliru kalau aku menyegel mereka sebagai antikris.
“Memang sudah lama saya mau bicara dengan bapak dan ibu sekalian. Sudah lama saya aktif dalam gereja. Sudah lama juga saya mempelajari gereja dan agama. Dan inilah saatnya saya mau bicara, kebutulan bapak dan ibu sekalian adalah wakil gereja. Sebetulnya saya telah memutuskan membacakan surat pernyataan saya di gereja, namun mungkin itu tak akan baik akibat yang akan ditimbulkannya. Tapi, mumpung bapak dan ibu sekalian sudah datang, saya akan mengatakannya sekarang.”
Terlukis keheranan pada raut wajah setiap orang yang datang itu. Namun, aku tak tahu pasti bilakah mereka sudah mengerti isi hatiku. Ku lihat pendeta menelan ludah. Seorang wanita memperbaiki duduknya. Seorang bapak mengatupkan mulut dengan kencang. Yang lainnya menata lantai.
“Katakan saja pak. Kami siap menerima keluhan dari jemaat. Sudah tugas kami sebagai penatua dan syamas, pelayanan khusus, untuk mendengar suara jemaatnya. Itulah yang diajarkan Kristus,” kata pendeta memecah keheningan.
“Saya sudah memutuskan untuk tidak akan bergereja lagi,” mendadak semua kepala pendengar terangkat, mencari kepastian yang barusan mereka dengar, “Saya bahkan sudah tak ingin beragama lagi. Buat saya agama hanyalah jembatan untuk dekat dengan sang pencipta. Gereja sekarang kini adalah jembatan yang rapuh. Dan, menurutku, agama bukanlah satu-satunya jembatan untuk dekat dengan Tuhan. Sudah puluhan tahun saya bergereja. Sudah puluhan saya mempelajari sejarah gereja. Yang kutemukan hanya kegagalan gereja. Kalaupun ada keberhasilanya, hal itu pun bisa dilakukan tanpa harus bergereja. Lagipula, Yesus datang kedunia tidak membawa agama. Dia membawa damai. Bukan menganjurkan membentuk organisasi besar dunia yang berkuasa dan mengatur untuk kepengatan golongan penguasa. Pimpinan gereja mengira bahwa mendirikan organisasi gereja yang besar sama dengan membangun kerajaan Allah. Pemuka agama kita telah salah memaknai kerajaan Allah yang Yesus pernah ucapkan. Gereja bukanlah kekuasaan, melainkan pelayanan. Pelayanan adalah pelayanan. Bukan kekuasaan. Karena kekuasaan adalah kekuasaan.”


- dan berarti alfa dan omega. Simbol itu melambangkan Yesus Kristus sang pembawa damai.
- Penulis adalah guru bahasa Inggris di SMP Kristen Tondei. Juga sebagai dosen di Universitas Kristen Indonesia di Sulawesi Utara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar